Sunday, December 25, 2016

Cinta ku jauh dipulau

Buat Umi Kalsom,

Habis sudah madah punah ranah
memakna mu di kaki langit
menanda mu di atas sekali
biarlah satu dunia
di buta kornea
biar juga satu dunia
tak terlihatkan
apa yang aku sendiri perlihatkan
habis lebur hancur
waktu waktu aku semua berlalu beku

Dari waktu bermula sampai sekarang
Ini ekstradisi dari senyum
Seluruh komposisi dari mata mu
selebihnya,
adalah ketawa mu

habis sudah madah aku punah ranah
tak tersusun pula
tidak ada sela sela,
berselerakan
hanya buat mengolah mu menjadi satu sajak ku

Setiap kali hari baru
menghabiskan hari lama adalah satu kesesakan bagi aku
ia mendesah, memijak injak, mendesak aku
untuk hari baru itu

aku lihat ke dalam dua mata mu
ia bergenang saat hari lalu
dan aku menoleh kembali
aku lihat aku
dan senyum dari cinta mu

cinta ku, jauh di pulau.


Monday, November 28, 2016

Senyum mu sampai juga

Kamu, kegelisahan ku
memadat segala pesan pesan belum reda
segala cipta ku tentang cinta
ia merekah dan hilang ke dalam fantasi
menjadi satu percik cahaya
dari senyum mu sampai juga

berpinarlah, bergelora
rasa dan ketakutan
tidak 'kan terkira siksanya
mendera dan merana
hanya untuk satu senyum mu

dan waktu waktu itu menyelimuti
membawa kamu pergi
ke ruang ruang mengkhayalkan
dari senyum mu aku sampai juga



Thursday, November 24, 2016

Djang hidup

ku hinakan diri
untuk meragut cinta mu
biar ia perit membakar seluruh ku
seperti sang mentari
cukuplah ia menjadi hangat
ku bawa sampai ke mati
selagi mu hidup

Tuesday, November 22, 2016

Biru

Angan angan terus terdera, sehingga di tusuk mimpi
adanya suara dari hujung jalan
ia terlempar di tengah kelat, ia kehancuran
sampai kita menemukan hujungnya
masih kita berjalan dengan tempang
menempuh lorong membiru
kadang ada cahaya, kadangnya hilang kekabusan

gelap ini masih hidup
menggeluti menolak henti
dan ruang masih menghimpit
pada tembok tembok silam
aku raut wajah mu, tidak untuk apa apa

Tuhan begitu baik, membenarkan kita bermimpi

Friday, November 18, 2016

Orang orang macam kami

kepada orang orang bahagia

di atas sana kau perlu risau
rumah kalian adalah demi rakyat
hidup mu penuh dengan kesenangan
masa makan tak perlu jimat
masa tidur tak perlu ligat
hanya senyum tak memikir apa apa
dan laung demi rakyat
enak sekali hasil perusahaan kalian
gaji puluh ribu di kongsi dan di mamah sama anak bini

orang orang macam kami
gaji ratus ratus, aduh
cuma tinggal angan angan
mau mengusir bicara kalian
kami di suruh tunggu
hidup selalu perlu ribut tentang waktu
ada lagi mimpi ngeri mencekik
senyum pun kalau di paksa

orang orang macam kami
hanya mampu duduk di gardu kecil
memandang arah bangunan tinggi itu
masih banyak peleseran jadi entah
ini negeri sudah lucu
ke dua pasukan bersaing
mana untung untungan mereka

orang orang macam kami ya, di perah
bagi menyuap anak bini kalian
dan anak bini kami
mati menghambakan buat kalian

orang orang macam kami
terus melawan walau di tindih tindik, katanya perubahan
sejak merdeka kami tak di beri tujuan cuma polisi
kami di umbang ambing menjadi satu bentuk kawalan
bila melawan kami di tuduh membenci keamanan
sedang kami asal dari aman
kami cuma mahu kehidupan baik sedikit dari sini

orang orang macam kami akan tetap ada
dan dari penindasan akan wujud keberontakan
kami akan dituduh untuk sekian kali
menjadi manusia busuk di arus pertama kalian

untuk anak bini kalian
dengar sini

walau senjata itu tajam mendesak menikam
tulisan aku akan wajib hidup untuk generasi lain
kerana ini akan menembus mu
biar aku akan di timbus
kata kata aku akan belayar sekeliling dunia
membunuh opresi kalian
politik taik kucing

Wednesday, November 16, 2016

Intermisi

Macam apakah bentuk aku nanti
saat aku melihat mu pada pertama kali
apa aku akan jadi sempurna
seperti kejadian pertama hidup
atau sesuatu yang kurang enak
di depan mu

tubuh ku gigil dan getar
tak segigih lagi semacam sekarang
dan nyawa ku mencungap mencari mu
menyebut dan berderu angin membawa ku

jalan terhimpit di kiri kanan 
tak ada lagi soal soal kebebasan
aku mencari makna sebuah penghabisan
mata ku menegandah mencari intermisi
bagi aku inilah diksi diksi
ia menyesak tapi ku tahu kamulah jalan lurus

segala aku tinggal
hanya berbekas perbuatan
dan dengan itulah aku lampirkan halaman
dari koyak koyak sebuah pengharapan
sajak mulai menyusup
ini bukan lagi halangan

untuk bertemu mu
aku menempuh segala duri onak dan darah
kaki ku, ku pacu sederas kuda
mendetak pada setiap terjah
meraung pada seluruh kebenaran
dan kini aku menghadap mu
terimalah cinta ku atas perasaan mu

Tuesday, November 15, 2016

Tak terungkap

Banyak kali kita memikir pada kesatuan tak penting
tentang hati dan perasaan, perasan
adakah kita bisa melihat keadaan rumit
memungkin keberduaan itu menjadi satu hampa seperti suramnya kaki kaki gunung
resah adalah persoalan ia menukar jawapan kepada ketulian
saat itu kita akan lebih hampir kepada eksekusi


mungkin kita akan menunggu
jawapan jawapan kita sendiri mau jawapkan
adakah kita memikir satu nanti ini
akan mengeser masa menjadi lambat
dan seperti udara mencari segar
kesedaran tak akan ada selagi keinginan itu menjadi impi
mimpi akan cuma angan angan
kerana untuk satu kenyataan
banyak lagi perlu di usahakan

kadang kita akan lagi enak
membayangi bayang sendiri
pasir pasir pantai waktu fajar
terbang ke langit dan hilang
terus hilang seperti matinya bulan pada waktu itu
berdepanlah dengan masalah dan soal soal
kerana bagi kita semua ini adalah hidup bukan kehidupan
tidak kau tahu, dunia hanyalah palsu
di setiap hujung malam
kau akan memusing untuk mencari kepastian

kita kan tentukan institusi sendiri
jalan jalan pilihan
kerana di setiap pangkal itu
ada kesempatan yang bisa kita beri gambar
dan inilah kata kata tak terungkap